Iklan
jump to navigation

Berikan Hikmah Ramadhan Untuk AYAH 22 Juli 2014

Posted by peysblog in Budaya, Special Event.
Tags: ,
trackback

Sodara-sodara sebangsa dan setanah air…
orang-tuaApapun kita memanggilnya, Ayah, Bapak, Abah, Papi, ataupun Papa. Sadarkah bahwa ia lah yang telah membesarkan kita dengan keringatnya sampai akhirnya kita seperti saat ini, memang posisinya hanya sepertiga dari peran seorang Ibu tapi pepatah mengatakan “you’ll never know till you’ve tried” (anda tidak akan pernah tahu sampai anda mencoba) bukan berarti mencoba untuk segera memiliki anak, ingat harus nikah dulu donkssss…. ( bikin anak kok coba-coba 😀 ). Tapi pepatah ini benar adanya bagi saya, akibat keegoisan saya sehingga saya baru menyadari kasih sayang seorang Ayah adalah ketika saya sudah memiliki anak.

AYAH DAN ANAK IN GUITAR

Dimanapun anda saat ini, bagi yang masih memiliki Ayah ataupun Ayahnya telah tiada sadarilah bahwa kita hidup berkat kerja keras seorang Ayah. Mari kita kembali mengenang beberapa hal saat kita masih dalam bimbingan seorang Ayah
Ketika Ibu telah tertidur lelap karena lelah mengasuh kita seharian dan kita bangun, maka Ayah tidak ragu menggendong, membelai dan meninabobokan kita tanpa menghiraukan rasa kantuknya sendiri. Bahkan ketika kita sudah terlelap kembali ia terus menjaga agar tak ada seekorpun nyamuk menghampiri kita. Kini apakah kita sudi melakukannya sekedar menjaga Ayah pada saat ia sakit?

Ketika pagi datang, di tengah rasa kantuknya yang masih tersisa namun tugas sudah menunggu dan ia harus bergegas pergi tapi ia menciumi kita berkali kali untuk menunjukkan betapa sayangnya ia, kemudian ia berangkat bekerja memeras keringat tanpa mengenal tempat dan waktu demi mencari nafkah untuk membesarkan kita. Kini apakah kita rela menyisihkan sedikit penghasilan untuk sekedar membelikan kebutuhannya?
Ketika Ayah pulang bekerja dengan rasa lelah luar biasa , ia bergegas menuju rumah karena teringat akan kita dan melupakan semua beban pekerjaan demi mengajak kita bermain. Kini apakah kita mau membagi waktu untuk sekedar bersilaturahmi dan mengobrol hangat dengannya?

Ketika Ayah dan Ibu terlibat pertengkaran, maka kita lah yang meluluhkan hatinya. Ia menganggap kita sebagai karunia yang tak perlu menjadi korban pertengkaran. Ia selalu menjaga kita dari bahaya apapun, ia rela mengorbankan apa saja agar kita tumbuh menjadi seseorang seperti saat ini, bahkan nyawanya sendiri tidak lebih berharga dari kehidupan kita.

Beruntunglah kita yang saat ini masih memiliki Ayah. Sesosok pria yang dulu begitu gagah perkasa ketika memperjuangkan anaknya, kini telah menjadi lelaki tua yang tak mampu lagi menunjukkan kasih sayangnya terhadap kita.

Hikmah Ramdhan yang beberapa waktu lagi akan berakhir dengan Idul Fitri semoga dapat memberikan kita kesempatan untuk memperbaiki sikap kita terhadap Ayah. Bukan tentang balas jasa atau apapun karena jasanya benar-benar tak dapat kita bayar, tapi dengan sekedar meminta maaf dan mencium tangannya dengan ikhlas atau menaburkan bunga di atas kuburannya dengan doa yang tulus, tentu akan membuat ia bahagia…………..

Saya dan Ayahanda tercinta, 26 Tahun yang lalu dan perbandingannya dengan kini
DULU DAN KINI

Selamat Malam…..

Iklan

Komentar»

1. Adell - 22 Juli 2014

Podium euy.
Tumben nyang bginian bro?

peysblog - 22 Juli 2014

Kan mu lebaran… Yu ah mudik salamin bapak

2. macantua - 22 Juli 2014

Father is greatest man ever….

peysblog - 22 Juli 2014

Yes He is

3. IwanPMD - 23 Juli 2014

Hikshiksss T_T

peysblog - 23 Juli 2014

Apa tuh???


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: